Dilihat dari desainnya, N219 Nurtanio tidak lagi menggunakan ramp door seperti halnya C212, karena memang kebutuhannya adalah untuk sipil. Artinya, untuk operasi seperti penerjunan kargo, N219 jelas tidak mungkin melakukannya. Paling banter, N219 dimanfaatkan untuk mengirimkan perbekalan ke tempat-tempat terpencil yang memiliki landasan kasar untuk tempat mendarat.
Bagaimana dengan penerjunan pasukan? Beberapa penerjun yang admin wawancarai mengatakan bahwa N219 bukan platform yang menyenangkan untuk terjun payung. Artinya, bisa saja dipakai terjun tetapi hasilnya tidak maksimal.
Pasalnya, hanya tersedia satu pintu besar di sisi kiri pesawat untuk keluar penerjun. Kalau seorang penerjun keluar dari pintu ini, ia akan terhempas oleh gas buang dan gelombang udara (slipstream) dari baling-baling pesawat dengan kecepatan tinggi, dan ini bisa beresiko bagi penerjun, apalagi terjun militer yang membawa banyak perbekalan atau senjata. Artinya, penggunaan N219 untuk keperluan terjun militer pun, kemungkinannya kecil.
Kemungkinan yang terbuka bagi N219 untuk dimanfaatkan bagi operasi militer adalah dengan mengubahnya menjadi platform ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) atau intelijen, pengamatan, dan pengintaian. Untuk melakukan operasi ISR, N219 butuh dipermak habis-habisan dengan menambahkan sistem radio, elektro optik (EO/IR), dan juga konsol misi yang dioperasikan oleh seorang spesialis.
Fungsi lainnya N219 versi ISR adalah untuk patroli maritim, khususnya untuk wilayah lautan litoral. N219 intai dan patroli maritim dapat menjadi mata udara untuk patroli angkatan laut dalam menemukan kasus-kasus maling ikan, mencegah perompakan dan penyelundupan, serta melakukan operasi SAR (Search and Rescue) apabila terjadi malapetaka di lautan. Selebihnya, butuh pesawat yang lebih besar dari N219 untuk melakukan operasi militer yang sifatnya lebih kompleks
Source : arcinc.id
FOR INFO CALL US
085648845617
corpsmilitary@gmail.com

Komentar