Militer.org - Apa yang menarik dari keberadaan pesawat intai maritim? Sebagaian
besar orang mungkin akan merujuk pada sosok radarnya, khususnya pada
radar intai maritim yang menjadi pananda asasi dari sang pesawat.
Umumnya radar intai maritim dibungkus dome (kubah) yang mencolok
perhatian. Dan bicara tentang update radar intai maritim, platform
CN-235 220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) produksi PT Dirgantara
Indonesia (PT DI) menjadi yang paling dominan di Tanah Air, setelah TNI
AU dan TNI AL menjadi operatornya. Dan menapaki jejak radar intai
maritim pada CN-235 220 MPA, setidaknya sudah ada tiga tipe radar intai
yang digunakan.
Generasi perdana CN-235 220 MPA produksi PT DI menempatkan radar intai maritim pada hidung (nose dome).
Persisnya ada satu unit CN-235 220 MPA “Si Hidung Pinokio” yang kini
telah dioperasikan oleh Skadron Udara 5 di Lanud Hasanuddin, Makassar,
Sulawesi Selatan. Butuh jeda waktu cukup lama, kemudian menyusul
Puspenerbal TNI AL mengoperasikan CN-235 220 MPA NG (Next Generation), adanya label NG ditandai dengan pemasangan winglet pada sayap utama. Dan lewat CN-235 220 MPA TNI AL, posisi radar intai maritim tak lagi berada di nose dome, sebagai gantinya posisi radar intai disematkan dibawah perut pesawat, atau dikenal dengan sebutan belly dome.
CN-235 220 NG MPA TNI AL (P-862) di Singapore AirShow 2016.CN-235 220 MPA “Si Hidung Pinokio” dengan radar Ocean Master 100.CN-235
220 MPA “Si Hidung Pinokio” menggunakan jenis radar intai maritim Ocean
Master 100. Sementara di era CN-235 220 MPA TNI AL dengan belly dome
menggunakan Ocean Master 400. Antara Ocean Master 100 dan Ocean Master
400 dibedakan dari besaran average power, yakni 100 watt untuk Ocean
Master 100 dan 400 watt untuk Ocean Master 400. Dimana keduanya punya
jangkauan deteksi yang berbeda.
Ocean Master 400 besutan Thomson-CSF, Perancis, beroperasi di
frekuensi I-band dapat menjalankan peran intai kapal permukaan, ASW
(Anti Submarine Warfare), pengintaian ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif), misi
SAR (Search and Rescue), anti penyelundupan, hingga dapat memindai
jejak tumpahan minyak di lautan lepas. Radar intai ini pun bisa men-scan
200 target dalam waktu bersamaan. Lalu bagaimana dengan jarak jangkauan
radar ini? Ocean Master dapat di setting untuk moda long range/short
range/small target. Secara terori untuk deteksi jarak jauh bisa mencapai
200 nautical mile (setara 370,4 km).
Dikutip dari ainonline.com (14/8/2014), disebutkan hanya ada
satu pesanan CN-235 220 NG MPA Puspenerbal yang menggunakan Ocean
Master 400 (P-860). Untuk pesawat kedua dan ketiga dikabarkan
menggunakan jenis radar intai maritim AN/APS-143C(V)3 OceanEye. Dan
mengikuti jejak TNI AL, pesanan tambahan CN-235 220 MPA untuk TNI AU pun
ikut menggunakan radar intai AN/APS-143C(V)3 OceanEye yang diproduksi
Telephonics dari Amerika Serikat. Belly dome pada CN-235 220 NG MPA TNI AL.
Bila kecanggihan Ocean Master 400 telah kami kupas di artikel
terdahulu, kini seperti apa kemampuan AN/APS-143C(V)3 OceanEye? Radar
ini pada hekekatnya punya kemampuan yang setara dengan Ocean Master 400,
terlebih pada jarak deteksi yang juga 200 nautical mile dan dibekali
fitur IFF (Identification Friend or Foe). OceanEye tak hanya
untuk dipasang pada pesawat sayap tetap, di helikopter pun radar ini
bisa dipasang, salah satunya digunakan pada Sikorsky S-70 milik AL AS. Sikorsky S-70Misi yang dapat dijalankan oleh AN/APS-143C(V)3 OceanEye mencakup
Anti-Surface Warfare (ASuW), Small target detection, Search and Rescue
(SAR) , Search and Rescue Transponder (SART) beacon detection,
Long-range maritime surveillance and classification, Fisheries
protection, Coastal surveillance, Contraband control and drug
interdiction, dan Border surveillance. Perlu dicatat, radar ini bukan
untuk mengendus keberadaan kapal selam. Sistem radar AN/APS-143C(V)3 OceanEye.Panel pengendali dan monitor radar di CN-235 220 MPA.Meski
pada CN-235 220 MPA TNI AL dan TNI AU disematkan di belly dome,
sejatinya radar ini pun tak masalah jika dipasang di hidung pesawat.
Punya jangkauan scan 360 derajat, radar ini beroperasi di frekuensi 460
Mhz. Fitur pendukung lain dari AN/APS-143C(V)3 OceanEye adalah Synthetic
Aperture Radar (SAR) and Inverse untuk penginderaan jarak jauh. Dan
kemampuan radar ini memang menampilkan display range resolution
pada jarak 60 nautical mile. Synthetic Aperture Radar, artinya SAR
adalah termasuk kedalam salah satu jenis radar. Hanya saja, berbeda
dengan radar konvensional yang mendeteksi dan menyajikan informasi
lokasi atau jarak, SAR menyajikan informasi dalam bentuk citra atau
gambar.
Kecanggihan lain dari AN/APS-143C(V)3 OceanEye adalah fitur Ground Moving Target Indicator
(GMTI) untuk mengidentifikasi sasaran yang bergerak cepat di permukaan
laut. Secara keseluruhan, bobot sistem radar ini mencapai 84,4 kg,
bicara tentang efisiensi biaya operasional dan maintenance, main time before failure radar ini juga juga cukup panjang, yakni 1.400 jam untuk pesawat dan 800 jam untuk di helikopter. (Gilang Perdana)
Source : indomiliter . com
Situs Militer.ORG, Portal Berita Militer Indonesia Terbaru dan Terupdate, Yang menampilkan Seluruh kegiatan Militer Negara Kesatuan Republik Indonesia, Baik TNI dan Polri, Sumber yang kami dapat berasal dari berbagai sumber online dan Sumber lapangan langsung
FOR INFO CALL US 085648845617 corpsmilitary@gmail.com